Credit: Image from Google.
Demam jalan-jalan, atau travelling di Indonesia dimulai semenjak terbitnya buku The Naked Traveler, yang ditulis oleh Trinity. Tulisannya dianggap mampu memprovokasi penduduk Indonesia, terutama anak muda (termasuk gw) untuk berani meninggalkan zona nyaman, pergi mengeksplorasi tempat-tempat baru, di dalam dan luar negri. Trinity telah berhasil menjadikan style backpaker atau jalan ala gembel sebagai tren utama berpergian di kalangan anak muda.
Sampai sekarang, traveling masih dianggap mahal oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Menurut gw sih relatif, tergantung cara berpergian, lamanya, dan lokasi tujuan. Gw ga akan berpanjang-panjang membahas hal klasik ini karena sudah banyak tulisan yang membongkar dan mengulitinya. Satu hal lagi yang masih mainstream di Indonesia tercinta ini adalah jalan-jalan dianggap hanya buang duit saja dan bikin capek badan. It is not always so, because in my humble opinion:
1. Mending habisin duit buat jalan-jalan ketimbang hal-hal negatif macam narkoba.
2. Riset telah membuktikan bahwa spent on experiences brings you much more happiness than things. So guys, kenapa masih hesitate??
Di belahan dunia lain, terutama di negara-negara maju, jalan-jalan sudah terintegrasi dengan kehidupan mereka, tidak hanya sekadar agenda selipan pengisi long weekeend, bahkan pemerintah dan tempat kerja mereka sangat memfasilitasi dengan memberikan cuti panjang hingga berbulan bulan (baik cuti berbayar ataupun tidak), karena mereka menyakini adanya korelasi positif antara produktivitas kerja dengan liburan (mungkin yang menjadi motivasi kerja adalah waktu libur yang lama). Masyarakat dinegara-negara ini juga cenderung melakukan perjalanan lebih lama ketimbang masyarakat Indonesia, bisa hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Durasi jalan-jalan yang mayoritas dilakukan masyarakat Indonesia biasanya sekitar 1 - 2 minggu. Hal klasik yang menghalangi perjalanan panjang adalah ketersediaan dana (bagi pelajar/mahasiswa) dan singkatnya waktu cuti yang diberikan (untuk yang sudah bekerja, atau waktu liburan sekolah bagi pelajar). Sepertinya ungkapan ketika muda surplus waktu tetapi defisit uang, dan ketika sudah bekerja surplus uang tapi defisit waktu benar adanya. Banyak faktor yang menyebabkan jalan-jalan belum menjadi budaya di Indoonesia, tetapi gw mencurigai penyebab utama sampai saat ini hanya segelintir orang Indonesia yang merencakan jalan-jalan dengan serius, atau yang sudah mengintegrasikan jalan-jalan dalam kehidupan mereka, adalah sangat singkatnya waktu cuti.
Berdasarkan pengalaman sendiri, pengalaman traveling memberikan pengaruh yang signifikan dalam keseharian. Traveling membuat gw cenderung lebih respect pada perbedaan, mempunyai banyak kenalan, mendapat pengalaman-pengalaman unik di berbagai tempat, lebih mudah beradaptasi, dan karena gue jalan ala backpaker dimana setiap hari ga bisa ditebak, menjadikan gw lebih kreatif dalam menjalani keseharian dan taugh dalam menghadapi hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan. Hal-hal ini adalah modal yang sangat berharga bagi gue, dan ga bisa dinominalisasi.
So, apakah traveling hanya sekedar hobi pengisi waktu luang, atau gaya hidup yang sudah membudaya, balik lagi ke orang nya. Gw dari kecil emang senang jalan, walopun sekedar ikut nyokap ke pasar. Sepulangnya dari backpaker untuk pertama kali di tahun 2012, I found it addictives, and it has been part of my life in an instance. Keleleran berhari-hari di jalanan and getting lost is so exciting! Sejak saat itu gw selalu mantengin tiket promo, ikut berbagai forum dan komunitas traveling, karena gw berkomitmen to hit the road as often as possible :)
